Lewati ke isi

Bedah Struktur Tanaman hingga Sel Jamur: Mahasiswa Agroteknologi dan Agribisnis Perdalam Dasar Ilmu Hayati

Bedah Struktur Tanaman hingga Sel Jamur: Mahasiswa Agroteknologi dan Agribisnis Perdalam Dasar Ilmu Hayati

Solo, 16 Desember 2025 – Laboratorium Biologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Batik dipenuhi antusiasme mahasiswa dari Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis. Mereka mengikuti rangkaian praktikum Biologi Pertanian yang menjadi fondasi penting dalam ilmu pertanian, dengan fokus utama pada pengamatan struktur morfologi dan anatomi tanaman, pengamatan sel jamur, serta pembuatan herbarium.

Kegiatan ini bukan sekedar rutinitas akademik, melainkan langkah awal bagi calon sarjana pertanian untuk memahami “mesin” kehidupan yang kelak akan mereka kelola di lahan maupun dalam manajemen bisnis tani.

Sesi pertama praktikum diawali dengan pengamatan struktur morfologi (bentuk luar) dan anatomi (struktur dalam) tanaman. Menggunakan mikroskop binokuler, para mahasiswa diajak untuk melihat lebih dekat jaringan penyusun tumbuhan yang selama ini hanya mereka pelajari melalui buku teks.

Mahasiswa dengan teliti membuat sayatan tipis pada batang, akar, dan daun untuk mengamati perbedaan jaringan pengangkut (xilem dan floem) pada tanaman monokotil dan dikotil. Pemahaman mendalam tentang anatomi ini krusial bagi mahasiswa Agroteknologi untuk memahami fisiologi tanaman, sementara bagi mahasiswa Agribisnis, ini menjadi dasar pengetahuan produk (product knowledge) yang vital dalam pemasaran komoditas.

Selain tanaman tingkat tinggi, praktikum ini juga membedah dunia mikroorganisme, khususnya jamur (fungi). Dalam dunia pertanian, jamur memiliki dua wajah: sebagai patogen penyebab penyakit tanaman, atau sebagai agen hayati yang menguntungkan (seperti Trichoderma sp. atau jamur mikoriza).

Mahasiswa melakukan pengamatan terhadap struktur hifa dan spora jamur. “Dengan melihat langsung struktur sel jamur, mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi karakteristik dasar fungi. Ini adalah bekal penting untuk mata kuliah lanjutan seperti Perlindungan Tanaman dan Fitopatologi,” ujar Libria Widiastuti, SP, MP Dosen Pengampu, selaku koordinator praktikum.

Sesi yang paling menuntut ketelatenan dan kesabaran adalah pembuatan herbarium. Mahasiswa ditugaskan untuk mengoleksi spesimen tanaman gulma maupun tanaman budidaya, membersihkannya, dan melakukan proses pengeringan serta pengepresan (pressing).

Herbarium kering ini bukan hanya sekadar koleksi seni, melainkan standar referensi ilmiah untuk identifikasi spesies tanaman. Dalam proses ini, mahasiswa belajar teknik:

Koleksi Lapangan: Mengambil sampel tanaman lengkap (akar, batang, daun, bunga).

Preservasi: Teknik pengeringan yang menjaga struktur tanaman agar tidak busuk.

Identifikasi & Labeling: Menentukan nama ilmiah (Latin) dan klasifikasi taksonomi tanaman.

Salah satu mahasiswa peserta praktikum, [Nama Mahasiswa], mengungkapkan kesannya. “Awalnya mikroskop dan herbarium terlihat rumit, tapi setelah dicoba, sangat seru. Kami jadi paham kenapa tanaman tertentu tahan kering atau bagaimana jamur berkembang biak. Ini membuka wawasan kami bahwa pertanian itu sangat saintifik,” ujarnya.

Praktikum ini diharapkan dapat mencetak lulusan Agroteknologi dan Agribisnis yang tidak hanya handal dalam teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis laboratorium yang mumpuni untuk mendukung pertanian Indonesia yang maju dan berkelanjutan

Bedah Struktur Tanaman hingga Sel Jamur: Mahasiswa Agroteknologi dan Agribisnis Perdalam Dasar Ilmu HayatiBedah Struktur Tanaman hingga Sel Jamur: Mahasiswa Agroteknologi dan Agribisnis Perdalam Dasar Ilmu Hayati